Rabu, 21 Maret 2012

Memperbaiki Error Visitor Counter Senayan (SLIMS)

Ada 2 hal yang sering ditanyakan pengguna mengenai visitor counter pada aplikasi Senayan (SLIMS). Yang pertama adalah halaman visitor counter tidak tampil, yang kedua adalah halaman visitor counter sudah bisa tampil tapi tidak bisa jalan. Berikut kita akan membahas keduanya.

  1. Visitor Counter tidak tampil
  2. Halaman visitor counter bisa dipanggil melalui url http://domainanda/?p=visitor. Jika visitor counter tidak tampil melalui link tersebut, atau halaman redirect ke halaman utama, maka konfigurasi IP Address pada visitor counter Anda yang bermasalah. Silakan buka file visitor.inc pada folder slims3-stable15/lib/contents kemudian isikan IP Address Anda pada baris $allowed_counter_ip = array(‘127.0.0.1′);. Jika Anda mengisikannya dengan benar, maka visitor counter akan tampil seperti berikut:

  3. Visitor Counter tidak jalan
  4. Visitor counter tidak jalan, ilustrasinya sebagai berikut: Anda telah mengisi field pada halaman visitor, tetapi ketika Anda klik tombol Add tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pemberitahuan berhasil, gagal, atau terjadinya kesalahan. Hal ini biasanya terjadi ketika Anda menggunakan public template selain default. Beberapa public template yang pernah saya coba dan bermasalah dengan visitor counter diantaranya: Blue, Green, Google, Igos dan Invention.

    Kesalahan tersebut terjadi karena ada script jQuery yang tidak jalan. Jika Anda buka error console pada browser Anda, akan ada pemberitahuan seperti berikut:


    *untuk membuka error console pada firefox tekan ctrl+shift+J atau tools > web developer > error console.

Solusinya adalah, Anda bisa membenahi masing-masing template tersebut satu per satu, atau sedikit mengedit file visitor.inc dan visitor counter bisa berjalan normal di semua template. Saran saya pilih opsi kedua, sedangkan templatenya biar dibenahi sendiri sama pembuatnya. Hehe..

Buka file visitor.inc dan edit seperti berikut.

1//jQuery(this).enableForm().find('input[type=text]').val(''); line 137
2jQuery(this).attr('enabled','enabled').find('input[type=text]').val(''); //script edit
3
4//jQuery(this).enableForm().find('input[type=text]').val(''); line 143
5jQuery(this).attr('enabled','enabled').find('input[type=text]').val(''); //script edit
6
7//theForm.disableForm(); line 166
8theForm.attr('disabled','disabled'); //script edit

Semoga membantu.


sumber : http://blog.uin-malang.ac.id/jonk/2012/03/07/memperbaiki-error-visitor-counter-senayan-slims/

Minggu, 04 April 2010

Undip Meluncurkan Portal baru : Freeware.undip.ac.id

Freeware Undip merupakan website yang menyediakan koleksi software gratis yang diperuntukkan secara khusus untuk sivitas akademika Undip, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bisa diakses oleh masyarakat luas.

Kami juga menyediakan software freeware atau bahkan shareware yang bersifat legal dan mempunyai berbagai fungsi dalam membantu sivitas akademika Undip yang membutuhkan software untuk menunjang kegiatannya. Untuk ke depannya kami akan memasukkan software lain yang lebih besar ukurannya dan lebih menunjang para dosen dan mahasiswa yang sering menggunakannya. .

Salah satu kelebihan dari subdomain Freeware Undip adalah bahwa software yang kami sajikan langsung bisa didownload dari server Undip sendiri sehingga pengaksesan data bisa lebih cepat. Hal ini dikarenakan data didownload secara langsung tanpa memakai mirror ataupun link ke situs database lain.

Klik disini untuk mengakses

Selasa, 30 Maret 2010

Pelatihan Pengolahan Bahan Pustaka (Buku) di Perpustakaan Undip

Sebanyak 19 (Sembilan belas) peserta dari berbagai perpustakaan baik sekolah maupun perguruan tinggi diantaranya SMK 11 Semarang, SMA Kolese Loyola, Unsiq Wonosobo, Stikes Annur Purwodadi, Akbid Mambaul Ulum, Stimart – AMNI Semarang, UNISRI, UPS Tegal, Udinus, dan beberapa peserta dari lingkungan perpustakaan Undip sendiri, pada hari Senin, 22 Maret 2010 mengikuti kegiatan pelatihan pengelola bahan pustaka (buku) di UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro.

Instruktur dan materi pada pelatihan yang akan berlangsung hingga 26 Maret 2010 tersebut di atas adalah Drs. P. Anggardjitono (Katalogisasi), Dra. Yuniwati BYPMYR, S.Sos, MSi dan Harini Desi Utami, S.Sos (Klasifikasi dan Penentuan Tajuk Subyek), Susilo, SS dan Eko Budiyanto, SS (Inventarisasi Bahan Pustaka), Drs. Santoso dan Ana Faridatunniswah, A.Md (Inputting Data).

berita selengkapnya dapat anda baca di sini

Selasa, 09 Maret 2010

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM MENDUKUNG UNIVERSITAS MENUJU PERINGKAT DUNIA

Oleh : Sugeng Priyanto, SS*

* Pustakawan UPT Perpustakaan Undip, disampaikan dalam Forum Komunikasi Pustakawan Undip di Fakultas Teknik, Semarang 10 Maret 2010

BEBERAPA waktu lalu, daftar Webometrics Ranking of World Universities edisi Januari 2010 telah diumumkan. Berbeda dari publikasi sebelumnya, kali ini Indonesia berhasil menyertakan 38 perguruan tingginya ke jajaran Top 5000 Universities di seluruh dunia. Artinya, Indonesia mampu menaikkan peringkat dalam ranking webomatrics milik Cybermetrics Lab yang bermarkas di Spanyol ini karena pada edisi januari 2008 hanya 17 perguruan tinggi yang masuk dalam jajaran Top 5000. Universitas Diponegoro sendiri berada di Peringkat 11 Indonesia dan 59 Asia Tenggara Versi Webometrics Januari 2010 (http://undip.ac.id).

Mungkin setahun belakangan ini kita sering mendengar istilah webometrics dan World Class University. Banyak juga yang belum mengerti dengan jelas, apa itu webometrics dan manfaatnya bagi kita. Dalam suatu kesempatan Pembantu Rektor IV Undip menegaskan bahwa peringkat webometrics memiliki arti yang cukup penting bagi Undip.

Pemeringkatan World-Class University

Berbagai pemeringkatan perguruan tinggi di lingkungan internasional sudah sering dilakukan secara periodik, walaupun lembaga pemeringkatnya relatif masih sedikit. Metode pemeringkatan saat ini yang dijadikan acuan adalah

  1. Academic Ranking of World Universities (ARWU) dari Shanghai Jia Tong University,
  2. Times Higher Education Supplement (THES) QS World Univeristies Rankings (THES=QS),
  3. Webometrics Ranking of World Universities (WRWU), dan
  4. Performance Ranking of Scientific Papers for World Universities (SPWU) dari National Taiwán University.

Sekilas Peringkat Webometrics

Webometrics secara resmi diluncurkan pada tahun 2004 dan dimutakhirkan setiap semester. Data dikumpulkan pada bulan Januari dan Juli kemudian dipublikasikan pada bulan berikutnya. Tujuan umum dari Webometrics adalah mendorong komunitas akademik mengenai pentingnya publikasi melalui web. Yang perlu dicatat adalah indikator berbasis web tersebut bukan hanya sekedar diseminasi dari pengetahuan akademis saja, tetapi juga mengukur kegiatan ilmiah, kinerja dan dampaknya juga.

Webometrics menggunakan empat indikator yaitu

  1. Visibility / visibilitas (V)
  2. Size / ukuran (S)
  3. Rich Files / kekayaan file (R)
  4. Scholar (Sc)

Formula penghitungan dan pembobotannya sendiri adalah seperti di bawah:

Webometrics Rank = (4xV) + (2xS) + (1xR) + (1xSc)

fullteks bisa dilihat di ...

MENGEMBANGKAN PERPUSTAKAAN DENGAN FREE OPEN SOURCE SOFTWARE

Oleh Sugeng Priyanto, S.S

Sekarang ini teknologi informasi telah berkembang dengan pesat dan memberikan kemudahan di segala bidang. Perkembangan teknologi informasi tersebut disebarkan melalui jaringan internet, yang telah menghubungkan semua orang dan menyingkirkan segala keterbatasan jarak dan waktu. Dengan penguasaan teknologi dan media yang ada di internet, keterbatasan dana bukan menjadi suatu halangan bagi siapa saja untuk maju dan memberikan nilai tambah bagi dirinya.

Dampak dari perkembangan teknologi informasi tersebut juga merambah ke dunia perpustakaan. Perkenalan perpustakaan dengan teknologi berawal dari pemikiran untuk menggunakan komputer untuk melakukan otomasi pekerjaan perpustakaan. Berawal dengan teknologi penelusuran/OPAC hingga perpustakaan digital. Saat ini perpustakaan digital telah menjadi suatu kebutuhan untuk memberikan layanan bagi pengguna.

Di internet telah banyak software yang disediakan dengan gratis dengan lisensi GNU/GPL (General is Not Unix/General Public License) atau lisensi public. Software itu bebas bagi siapa saja untuk diunduh, dimanfaatkan dan dikembangkan. Beberapa tahun yang lalu pemerintah Indonesia juga telah mendeklarasikan gerakan Indonesia Goes to Open Source (IGOS) yang dimotori oleh Kementerian Riset dan Teknologi dengan tujuan mendorong pengguna teknologi informasi di Indonesia unntuk menggunakan software open source. Tetapi perkembangan open source dirasakan masih lambat penggunaanya, terutama di lembaga-lembaga pemerintah. Beberapa hambatan yang biasa dihadapi oleh lembaga pemerintah adalah :

  • Kebijakan dan prosedur implementasi Open Source Software
  • Kesulitan dalam melakukan instalasi program
  • Kurangnya program pendukung (training, bantuan eksternal, pemeliharaan)

Sedangkan beberapa hambatan yang dihadapi oleh para pengguna IT adalah :

  • Kurangnya keinginan beralih ke OSS
  • Tidak adanya kemudahan penggunaan dibandingkan dengan software berlisensi
  • Tidak adanya kemudahan mempelajari pengoperasian OSS bagi pengguna baru
  • Kesulitan dalam mengoperasikan OSS
fullteks dapat dilihat di ....

Program Pendidikan Pengguna di Perpustakaan Perguruan Tinggi : manfaat dan problematikanya

Oleh : Sugeng Priyanto, SS

Didalam dunia perguruan tinggi terdapat suatu idiom yang mungkin terkesan kuno yaitu bahwa “Library is the heart of the university” . Jadi Perpustakaan merupakan “jantungnya” universitas/perguruan tinggi. Namun kalau disebut jantung, tentu Perpustakaan memiliki peran vital/penting dalam kehidupamn perguruan tinggi. Bahkan tanpanya, mungkin akan mati. Tetapi apa yang terjadi di Indonesia perguruan tinggi dapat bertahan tanpa Perpustakaan sekalipun. Sehingga sebuah perguruan tinggi tanpa Perpustakaan yang sehat atau bahkan tidak memiliki perpustakaan, tentu dapat dikatakan sebagai sebuah robot.

Sebuah Perpustakaan yang sehat tentu harus dapat memompakan zat-zat berupa informasi dan ilmu pengetahuan ke seluruh tubuhnya (sivitas akademika) agar dapat bermanfaat bagi pertumbuhan dan aktifitas pendidikan di perguruan tinggi dalam rangka melaksanakan program Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Untuk itu Perpustakaan perlu mengadakan, menghimpun, mengolah, menyimpan dan melayankan koleksinya yang berisi informasi yang dibutuhkan oleh Penggunanya.

Mengingat arti penting perpustakaan bagi Penggunanya maka perlu diadakan suatu kegiatan yang memperlihatkan dan menjelaskan manfaat penting Perpustakaan bagi seluruh sivitas akademikanya. Hal yang sering terjadi adalah bahwa kemampuan pengguna dalam memanfaatkan Perpustakaan merupakan dasar yang amat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Selain itu Perpustakaan diharapkan mampu untuk mendidik penggunanya untuk tertib dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan semua koleksinya secara maksimal. Dengan demikian Perpustakaan akan berfungsi secara optimal apabila penggunanya dapat mengetahui dengan baik dan cepat dimana dan bagaimana cara menemukan sumber informasi yang mereka butuhkan.

full teks silahkan lihat di sini

Jadi Tutor UT

Beberapa bulan yang lalu saya nglamar menjadi Tutor Perpustakaan di UT buat nyari pengalaman. Dan ternyata diterima, tanggal 26 – 27 Agustus 2009 diundang untuk mengikuti pembekalan. Akhirnya jadi tau kalau jadi tutor itu susah juga, harus bikin RAT, SAT, RE dll sebelum melaksanakan tutorial. Rekan-rekan yang jadi dosenpun banyak juga yang ngikut dan merasakan lebih berat jadi tutor UT.

Dan sayapun dapat tugas mata kuliah Media Teknologi (PUST 2243), nutor mahasiswa D2 Perpustakaan di 4 Pokjar (Wuryantoro A, B, Pracimantoro dan Selogiri A). Hari Sabtu 29 Agustus 2009 jam 11.30 WIB saya berangkat dari rumah di Solo Baru ke Wuryantoro naik motor. Perjalanan cukup jauh (1 jam) dengan jalan yang bergelombang, melewati Waduk Gajah Mungkur. Akhirnya jam 12.30 sampai juga di SDN 1 Wuryantoro.

Ternyata menjadi tutor asyik juga, meski sedikit grogi dan bingung mau ngomong apa di depan kelas. Awak jadi keliatan kaya orang pinter yang omongane selalu didenger, he he he. Mahasiswa mendengarkan dengan penuh perhatian setiap penjelasan saya, meskipun ada juga suara celometan di kursi belakang. Biasalah, saya dulu juga begitu. Pas kuliah, kalau lagi nggak mood, duduknya di belakang, ngomong sendiri sama temen.

links

Perpustakaan, Universitas dan Webometrics

Beberapa hari ini Undip (PLTIK) disibukkan dengan pelatihan web bagi kepala jurusan, staf dan webmasternya. Semuanya demi satu tujuan, bagaimana menaikkan peringkat undip dalam website-website yang melakukan pemeringkatan misalnya webometrics, QS dll.

Peringkat Undip sendiri dirasakan agak memalukan bagi para siva dan alumninya. Masak kalah sama universitas A atau B yang jelas-jelas kualitas akademiknya di bawah Undip. timbul pertanyaan yang cukup menggelitik dari PR IV, apakah peringkat itu penting bagi Undip ? Apakah kita berkepentingan di situ, toh Undip masih tetap berdiri meskipun peringkatnya di tingkat antah berantah. ...............

full teks di http://sugengpri.blog.undip.ac.id/2009/08/18/perpustakaan-universitas-dan-webometrics/#more-3

Rabu, 22 April 2009

Reposisi Peran Perpustakaan dan Pustakawan di Era Library 2.0

Semenjak penetrasi internet gencar dilakukan di kampus-kampus perguruan tinggi, mahasiswa dan dosen selaku pemakai utama perpustakaan mulai bergeser arah dalam mencari informasi. Dalam memenuhi kebutuhan informasinya mereka lebih banyak memanfaatkan sarana internet. Harga Laptop juga semakin murah, penjualan laptop semakin meningkat sehingga banyak mahasiswa dan dosen yang memiliki laptop. Apabila dahulu hand phone yang mengikuti trend tehnologi menjadi sebuah kebutuhan maka kini laptop mulai menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka. Mereka dapat mencari informasi dan hiburan di internet lewat fasilitas hot spot yang ada.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tingkat kunjungan ke perpustakaan menjadi meningkat, akan tetapi tingkat kunjungan ke ruang koleksi tidak seramai dahulu, sebelum penetrasi internet di tingkatkan. Pengunjung lebih banyak menggunakan fasilitas internet dengan alasan
Dapat mencari informasi dengan referensi yang lebih banyak, lebih cepat
Dapat mencari hiburan yang diinginkan
Dapat menjalin hubungan secara langsung (online) maupun tidak langsung (offline) dengan cara chatting, email dll.
Dapat menjalin social networking dengan teman-teman yang dimiliki.
Semua hal tersebut diatas dapat dilakukan secara langsung dalam satau waktu, satu alat dan satu tempat yaitu di laptop/PC.

Selasa, 07 April 2009

Teknologi di Perpustakaan

Diskusi tentang teknologi informasi, termasuk teknologi informasi di perpustakaan, khususnya lagi tentang aplikasi komputer, seringkali hanya menyangkut kebendaan teknologi: hardware, software, harga, alat, besar/kecil, kecepatan mesin, dan sebagainya. Saya rasa ada kesalahan besar dalam cara kita memandang teknologi, kalau cuma itu yang kita diskusikan. Juga salah besar kalau kita hanya bicara tentang "skill": ketrampilan, pengetahuan tentang produk terbaru, di mana membelinya, dan sebagainya. Apalagi kalau kita hanya membicarakan harga dan akhirnya berkonsentrasi pada nilai finansial sebuah teknologi

Ada yang kita lupakan, mungkin karena kita anggap tidak penting. Setiap teknologi --termasuk komputer-- mengandung tata nilai, dan di dalam tata nilai ini ada yang dinamakan "trust". Susah menerjemahkan secara tuntas, apa yang dimaksud dengan "trust" ini.

Barangkali contoh kongkrit bisa menjelaskan.

Pernahkah Anda tidak yakin atau tidak percaya bahwa mobil terbaru yang dijual di toko bisa berfungsi dengan baik? Saya yakin, jarang sekali orang yang tidak yakin bahwa mobil baru bisa jalan. Mobil pada umumnya adalah teknologi yang sudah mengandung nilai "trust" tinggi. Orang percaya kepada fungsinya. Tidak hanya itu, orang juga mengenakan banyak nilai kepada teknologi ini, mulai dari gengsi, hidup yang efisien, keamanan, dan sebagainya. Semua nilai ini membentuk "trust" yang kemudian menjadi bagian dari nilai kehidupan masyarakat umum.

Walaupun seseorang tidak punya "skill" sama sekali tentang permobilan, ia tetap bisa menggunakan "trust" ini kalau diminta menilai sebuah mobil baru. Orang yang tidak punya uang pun, tetap bisa menggunakan "trust" ini. Terlebih lagi, "trust" ini juga sudah komplit. Artinya, "trust" itu bukan hanya pada kebendaan. Bukan hanya pada yang tampak ketika kita melihat sebuah mobil. Masyarakat Indonesia sudah punya "trust" kepada mobil sampai kepada aspek-aspek yang tidak tampak. Kita menaruh hormat kepada pembuatnya (teknolognya), walaupun kita tidak tahu pembuatnya. Kita menaruh hormat kepada penjualnya, walaupun penjualnya menipu kita dengan harga kelewat tinggi. Kita bahkan menaruh hormat kepada semua pemilikmobil di Indonesia, walaupun sering juga marah kalau mobil kita diserempet.

Sekarang coba kita alihkan ke komputer di perpustakaan. Pernahkah Anda tidak yakin bahwa komputer bisa berfungsi? Saya yakin, jumlah orang yang menjawab "ya" akan lebih besar daripada yang menjawab "ya" soal mobil. Teknologi komputer di Indonesia adalah teknologi yang belum punya "trust" di masyarakat Indonesia. Ini terlepas dari banyaknya ahli teknologi yang "skill"-nya tinggi. Ini juga terlepas dari seberapa besar daya beli masyarakat. Ini juga terlepas dari seberapa banyak orang yang bisa menggunakan komputer (computer literate). Bandingkan jumlah orang yang "mengerti mobil" dengan jumlah orang yang "mengerti komputer". Mungkin sebanding. Tetapi "trust" ke mobil dan ke komputer berbeda jauh!

Mengapa "trust" kepada komputer rendah di Indonesia -khususnya di bidang perpustakaan?
Salah satu sebab utamanya, menurut saya, karena dominasi industri dan ketimpangan antara janji vendor dan unjuk-kerja sesungguhnya. Industri komputer di Indonesia selalu mengumbar janji muluk, dan para vendor selalu bicara kelewat tinggi. Padahal, ketika komputer dipakai di tempat kerja, hasilnya juga tidak seberapa. Perbankan Indonesia menggunakan komputer sangat canggih. Tetapi kebangkrutan dan "penipuan" kepada konsumen juga sangat tinggi. Jadi, teknologi komputer benar-benar tidak ada gunanya, kalau yang bicara adalah orang yang kehilangan tabungan gara-gara bank-nya brengsek.

Di dunia perpustakaan Indonesia, vendor komputer belum begitu dominan. Yang dominan adalah pribadi-pribadi dengan ketrampilan komputer lebih tinggi dari koleganya. Kalau tidak hati-hati, pribadi-pribadi ini nanti akan bertingkah laku seperti vendor-vendor komputer kampungan di Indonesia. Mereka akan mengumbar janji tentang kehebatan komputer, tetapi kemudian tidak bisa bertanggungjawab jika janjinya tidak terwujud.

Seorang rekan teknolog pernah bertanya kepada saya: mengapa sulit sekali mengembangkan teknologi komputer di perpustakaan, padahal sudah jelas komputer adalah teknologi hebat?
Saya jawab dengan mantap dan penuh percaya-diri: you have not gained their trust. Para teknolog kita belum dapat meyakinkan pustakawan, stakeholder perpustakaan, pemakai jasa perpustakaan, dan masyarakat sekitar perpustakaan, bahwa teknologi komputer berguna untuk kepustakawanan.

Sebuah tulisan dari Pak Putu Laxman Pendit yang perlu kita baca untuk merenungkan kembali mengenai teknologi di perpustakaan
sumber : http://kepustakawanan.blogspot.com/2004/08/teknologi-di-perpustakaan.html

Pengalamanku bikin web perpus dengan joomla


Sudah hampir lama saya vakum, tidak menengok sama sekali blogku ini karena kesibukan dan juga kelupaan.
Hampir setahun ini saya belajar terus mengenai semua yang ada di internet, mencoba membuat karya di dunia maya. Akhirnya, meskipun masih jauh dari sempurna jadilah web kantorku
Setahun aku terpesona dengan joomla, terpesona dengan kemudahan dan keindahan tampilannya. Untuk seorang web designer pemula seperti saya joomla terasa mudah dan menyenangkan. Saya juga pernah mencoba belajar Drupal. Bagi saya terasa lebih susah, meskipun lebih aman.
Mulanya saya langsung pakai joomla 1.5, coba banyak template dan ekstensi dari joomla. Setelah dirasa cukup dan mau hosting ke server inherent undip, ternyata ada masalah. Saya gak bisa nambah content, tampilan admin untuk nambah konten ternyata tidak tampil sempurna. Kemudian disarankan untuk ganti dengan joomla 1.0.

Selasa, 27 Mei 2008

Penggunaan FOSS untuk TI Perpustakaan


Sudah lama gak memposting di blog saya ini, kangen juga rasanya. Mungkin gara-gara sibuk kerja jadi lupa atau karena kebiasaan laki-laki ya, karena ada yang baru/istri muda maka biasanya lupa dengan istri tua.

Ini bukan mengenai masalah Poligami lho, tapi mengenai perkembangan skill TI. Baru-baru ini saya sedang belajar mengenai CMS, mulai dari Aura, Joomla sampai Drupal. Semuanya saya coba install di komputer, dilihat mana yang bagus, lihat sisi baik dan buruknya, keunggulan dan kelemahannya.

Mengenai masalah FOSS (Free Open Source Software) yang dapat digunakan untuk TI perpustakaan, saya pelajari juga. Lirik sana-lirik sini, dapat info ini coba dipelajari dan diaplikasikan, seperti WWWISIS, Senayan, Openbiblio dll.
Semua sudah saya install, dilihat fitur-fitur dan tampilannya. Semuanya bagus dan punya keunggulan masing-masing.

Dari semua yang ada saya tidak bisa merekomendasikan bagi mereka yang ingin mengaplikasikannya karena saya hanya melihat tampilan dan fiturnya saja. Dari situ dapat saya pahami bahwa untuk mengaplikasikan TI di Perpustakaan tidak di perlukan dana yang besar, karena pada dasarnya semua memenuhi kebutuhan dasar perpustakaan.

Senin, 03 Desember 2007

Menumbuhkan Semangat Open Source di Kalangan Perpustakaan

Minggu kemarin saya disuruh wakilin bos buat hadir dalam workshop di Yogya. Disana disepakati akan dibentuk suatu Jaringan Perpustakaan Digital Perguruan Tinggi Indonesia (JAPERDIPTI). Dimana yang hadir sepakat untuk bekerja sama membangun suatu portal yang berisikan data-data koleksi muatan lokal (local content) dari setiap PT yang menjadi anggota. Dikarenakan selama ini belum adanya suatu data base koleksi muatan lokal dari PT di Indonesia. Portal ini nantinya akan nunut di jaringan INHERENT Dikti. Karena fisik jaringan komputer sudah ada dan sudah siap maka tinggal dibuat suatu kesepakatan kerja sama dan teknisnya.
Meskipun belum melibatkan seluruh PT di Indonesia akan tetapi ini suatu kemajuan dalam kerja sama antar perpustakaan PT di Indonesia.

Semangat Open Source
Semangat Open Source yang saya maksudkan disini adalah dalam hal berbagi informasi dan kerja sama. Dunia perpustakaan harus mencontoh dunia Open Source, dimana mereka selalu berusaha berbagi informasi dan kemajuan tanpa memikirkan hak cipta. Lihat saja perkembangan Linux, Ubuntu yang selalu mengeluarkan rilis baru setiap bulan 4 dan 10. Hal ini yang belum begitu terasa di dunia perpustakaan kita.
Perpustakaan-perpustakaan besar selalu menanyakan kontribusi dari perpustakaan kecil. Yang besar merasa berat hati menggendong yang kecil. 'Jangan suka minta terus dong', begitu yang selalu mereka dengungkan.
Perpustakaan kecil selalu merasa pesimis dan rendah diri, bagaimana kami bisa menyediakan layanan perpustakaan digital. Lha wong otomasi saja belum, hosting saja masih dalam rencana. Anggaran kami sangat kecil sekali. Untuk melanggan internet dengan bps yang besar, mana kuat kami ?
Lalu bagaimana solusinya ?
Disinilah kita kembali harus menengok ke dunia Open Source. Setiap bulan 4 dan 10 tersedia rilis terbaru dari Ubuntu yang dapat diunduh dengan gratis beserta update dan repositorynya, bagi yang tidak mampu menngunduh dapat memesan CD atau DVD nya dengan harga yang murah (5/10 ribu ). Selain itu setiap ada problem dapat dicari solusinya melalui forum-forum yang ada.
Lalu bagaimana dengan JAPERDIPTI ?
Menurut saya ini adalah suatu usaha yang bagus yang harus didukung semua perpustakaan PT tanpa mempertimbangkan kepentingan kita. Perpustakaan besar akan terlihat ke'besar'annya dengan berkumpul yang kecil dan perpustakaan kecil akan memperoleh manfaat yang sangat besar dengan memberikan sumbangan yang relatif kecil.
Lalu mengenai hal teknisnya.
Portal yang akan dibangun nanti perlu juga membuat suatu software yang dapat dijalankan secara offline. Jadi bagi perpustakaan kecil tidak harus memiliki suatu sambungan internet yang terkoneksi terus menerus. mereka tinggal mengunduh update database yang terbaru setiap 6 bulan sekali atau dikirimi CD/DVD update. Database terbaru tsb kemudian diupdate ke dalam pangkalan data offline yang ada.
Untuk mengupload data mereka maka perlu ditunjuk suatu koordinator rayon yang bertugas mengupload ke server di Inherent atau bisa juga menupload sendiri lewat koneksi internet. Konsekuensinya adalah akan ada biaya internet.

Sekali lagi kesepakatan ini adalah suatu kemajuan maka jangan dipersulit dengan peraturan-peraturan yang terlalu birokratis, kembangkan semangat berbagi, buatlah segalanya menjadi sederhana dan mudah.

Rabu, 03 Oktober 2007

Puasa di Perpustakaan

Bulan puasa kali ini, perpustakaan semakin ramai padahal pegawainya banyak yang puasa. Mahasiswa berduyun-duyun datang ke perpustakaan, apalagi mahasiswa baru yang sedang merasakan euforia menjadi mahasiswa. Rajin datang ke perpust, baca buku, nyari definisi tentang ini itu, mbikin tugas dari dosen secara mandiri. Perpustakaan jadi ramai banget bahkan terkadang kurang nyaman dan tenang. Banyak buku yang berserakan di meja, loker juga selalu penuh bahkan sampai nggak muat.
Sebagai pustakawan dan petugas perpustakaan yang baik, tentu kita senang dengan kondisi demikian, meskipun terkadang agak capai nglayaninya. Kita harus selalu siap melayani dengan keramahan yang 100 % walau terkadang capai juga harus menerangkan ini itu yang baru bagi mahasiswa. Peraturannya begini lho mbak, mas ...., buku yang dipinjam maksimal berapa dan kapan ...., yang ini adanya di rak ini dan lantai ini lho ....
Bagi pengunjung mungkin tidak terlalu terasa bosan dan capai ke perpustakaan. Sekalian bisa ngadem di ruang AC atau bisa baca buku dan belajar sambil nunggu waktu buka puasa. Kalo buat petugas kita mungkin agak capai dan tetap pasang muka senyum dan ramah.
Tetapi pengunjung yang ramai itu sampai kapan, mungkin sampai para mahasiswa baru sudah benar-benar merasa jadi mahasiswa. lalu mereka akan datang kalo butuh saja, setelah itu nongkrong bareng teman, tugas dikerjakan perwakilan saja lalu tinggal copy and paste. Sampai saat itulah suasana perpustku kembali ke asalnya, yang lebih nyaman buat petugas daripada buat pengunjung karena yang datang sepi dan pengunjung akan cepat pulang karena sepi.

Selasa, 25 September 2007

Apa yang anda cari di perpustakaan ?

Dahulu sebelum belajar dan bekerja di perpustakaan, saya kurang begitu mengenal apa itu perpustakaan, taunya cuma ada buku dan majalah di perpustakaan. Perkenalan dengan perpustakaan dimulai waktu SD. Saya sering baca buku-buku cerita wayangnya RA Kosasih, seri Ramayana dan Mahabarta, dari awal sampai mangkatnya para Pandawa, hingga kisah Parikesit dan juga buku-buku komik Punakawan (Petruk Gareng). Sungguh menyenangkan bisa baca buku cerita dengan gratis di perpustakaan yang seadanya. Selain itu saya juga suka baca koran dan komik-komik super hero di tetangga yang lebih kaya.
Perkanalan selanjutnya dengan perpustakaan terjadi waktu sudah mulai SMP. Saya suka baca-baca buku dan majalah di perpustakaan. Kadang-kadang diajak sama kakakku main ke Perpustakaan Daerah Kota Semarang di bekas Gedung GRIS. Pengalaman tentang perpustakaan berjalan terus sampai masa STM. Waktu STM saya lebih sering ke Gramedia daripada ke perpustakaan, karena buku-buku di Gramedia lebih menarik dan tokonya lebih nyaman.
Sampai saat itu saya hanya tau bahwa perpustakaan adalah tempat membaca dan meminjam buku. Ketika tahun 1999 saya diterima jadi PNS dan ditugaskan sebagai teknisi listrik di perpustakaan Undip. Saya disuruh kuliah di jurusan perpustakaan FS Undip hingga jadi sarjana dan terus bekerja dan bergelut dengan perpustakaan dan bahkan punya istri dari perpustakaan.
Untuk saya semua sudah saya dapatkan dari perpustakaan. jadi jangan tanya cinta beta dengan perpustakaan.
Lalu pertanyaanya "apa yang anda cari di perpustakaan ?" Mungkin harus menyelami masa kecil dulu (bagi saya) untuk dapat menjawab pertanyaan ini. Bagi saya (mereka) yang suka baca, perpustakaan adalah tempat memuaskan keingintahuan saya tentang segala sesuatu tanpa biaya dan tanpa diawasi penjaga (seperti toko buku).
Jadi mungkin simpel saja ya, buat pemakai mungkin yang dibutuhkan hanya buku yang lengkap dan menarik, suasana yang nyaman dan penjaga yang ramah.