Diskusi tentang teknologi informasi, termasuk teknologi informasi di perpustakaan, khususnya lagi tentang aplikasi komputer, seringkali hanya menyangkut kebendaan teknologi: hardware, software, harga, alat, besar/kecil, kecepatan mesin, dan sebagainya. Saya rasa ada kesalahan besar dalam cara kita memandang teknologi, kalau cuma itu yang kita diskusikan. Juga salah besar kalau kita hanya bicara tentang "skill": ketrampilan, pengetahuan tentang produk terbaru, di mana membelinya, dan sebagainya. Apalagi kalau kita hanya membicarakan harga dan akhirnya berkonsentrasi pada nilai finansial sebuah teknologi
Ada yang kita lupakan, mungkin karena kita anggap tidak penting. Setiap teknologi --termasuk komputer-- mengandung tata nilai, dan di dalam tata nilai ini ada yang dinamakan "trust". Susah menerjemahkan secara tuntas, apa yang dimaksud dengan "trust" ini.
Barangkali contoh kongkrit bisa menjelaskan.
Pernahkah Anda tidak yakin atau tidak percaya bahwa mobil terbaru yang dijual di toko bisa berfungsi dengan baik? Saya yakin, jarang sekali orang yang tidak yakin bahwa mobil baru bisa jalan. Mobil pada umumnya adalah teknologi yang sudah mengandung nilai "trust" tinggi. Orang percaya kepada fungsinya. Tidak hanya itu, orang juga mengenakan banyak nilai kepada teknologi ini, mulai dari gengsi, hidup yang efisien, keamanan, dan sebagainya. Semua nilai ini membentuk "trust" yang kemudian menjadi bagian dari nilai kehidupan masyarakat umum.
Walaupun seseorang tidak punya "skill" sama sekali tentang permobilan, ia tetap bisa menggunakan "trust" ini kalau diminta menilai sebuah mobil baru. Orang yang tidak punya uang pun, tetap bisa menggunakan "trust" ini. Terlebih lagi, "trust" ini juga sudah komplit. Artinya, "trust" itu bukan hanya pada kebendaan. Bukan hanya pada yang tampak ketika kita melihat sebuah mobil. Masyarakat Indonesia sudah punya "trust" kepada mobil sampai kepada aspek-aspek yang tidak tampak. Kita menaruh hormat kepada pembuatnya (teknolognya), walaupun kita tidak tahu pembuatnya. Kita menaruh hormat kepada penjualnya, walaupun penjualnya menipu kita dengan harga kelewat tinggi. Kita bahkan menaruh hormat kepada semua pemilikmobil di Indonesia, walaupun sering juga marah kalau mobil kita diserempet.
Sekarang coba kita alihkan ke komputer di perpustakaan. Pernahkah Anda tidak yakin bahwa komputer bisa berfungsi? Saya yakin, jumlah orang yang menjawab "ya" akan lebih besar daripada yang menjawab "ya" soal mobil. Teknologi komputer di Indonesia adalah teknologi yang belum punya "trust" di masyarakat Indonesia. Ini terlepas dari banyaknya ahli teknologi yang "skill"-nya tinggi. Ini juga terlepas dari seberapa besar daya beli masyarakat. Ini juga terlepas dari seberapa banyak orang yang bisa menggunakan komputer (computer literate). Bandingkan jumlah orang yang "mengerti mobil" dengan jumlah orang yang "mengerti komputer". Mungkin sebanding. Tetapi "trust" ke mobil dan ke komputer berbeda jauh!
Mengapa "trust" kepada komputer rendah di Indonesia -khususnya di bidang perpustakaan?
Salah satu sebab utamanya, menurut saya, karena dominasi industri dan ketimpangan antara janji vendor dan unjuk-kerja sesungguhnya. Industri komputer di Indonesia selalu mengumbar janji muluk, dan para vendor selalu bicara kelewat tinggi. Padahal, ketika komputer dipakai di tempat kerja, hasilnya juga tidak seberapa. Perbankan Indonesia menggunakan komputer sangat canggih. Tetapi kebangkrutan dan "penipuan" kepada konsumen juga sangat tinggi. Jadi, teknologi komputer benar-benar tidak ada gunanya, kalau yang bicara adalah orang yang kehilangan tabungan gara-gara bank-nya brengsek.
Di dunia perpustakaan Indonesia, vendor komputer belum begitu dominan. Yang dominan adalah pribadi-pribadi dengan ketrampilan komputer lebih tinggi dari koleganya. Kalau tidak hati-hati, pribadi-pribadi ini nanti akan bertingkah laku seperti vendor-vendor komputer kampungan di Indonesia. Mereka akan mengumbar janji tentang kehebatan komputer, tetapi kemudian tidak bisa bertanggungjawab jika janjinya tidak terwujud.
Seorang rekan teknolog pernah bertanya kepada saya: mengapa sulit sekali mengembangkan teknologi komputer di perpustakaan, padahal sudah jelas komputer adalah teknologi hebat?
Saya jawab dengan mantap dan penuh percaya-diri: you have not gained their trust. Para teknolog kita belum dapat meyakinkan pustakawan, stakeholder perpustakaan, pemakai jasa perpustakaan, dan masyarakat sekitar perpustakaan, bahwa teknologi komputer berguna untuk kepustakawanan.
Sebuah tulisan dari Pak Putu Laxman Pendit yang perlu kita baca untuk merenungkan kembali mengenai teknologi di perpustakaan
sumber : http://kepustakawanan.blogspot.com/2004/08/teknologi-di-perpustakaan.html
Tampilkan postingan dengan label Perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 April 2009
Rabu, 03 Oktober 2007
Puasa di Perpustakaan
Bulan puasa kali ini, perpustakaan semakin ramai padahal pegawainya banyak yang puasa. Mahasiswa berduyun-duyun datang ke perpustakaan, apalagi mahasiswa baru yang sedang merasakan euforia menjadi mahasiswa. Rajin datang ke perpust, baca buku, nyari definisi tentang ini itu, mbikin tugas dari dosen secara mandiri. Perpustakaan jadi ramai banget bahkan terkadang kurang nyaman dan tenang. Banyak buku yang berserakan di meja, loker juga selalu penuh bahkan sampai nggak muat.
Sebagai pustakawan dan petugas perpustakaan yang baik, tentu kita senang dengan kondisi demikian, meskipun terkadang agak capai nglayaninya. Kita harus selalu siap melayani dengan keramahan yang 100 % walau terkadang capai juga harus menerangkan ini itu yang baru bagi mahasiswa. Peraturannya begini lho mbak, mas ...., buku yang dipinjam maksimal berapa dan kapan ...., yang ini adanya di rak ini dan lantai ini lho ....
Bagi pengunjung mungkin tidak terlalu terasa bosan dan capai ke perpustakaan. Sekalian bisa ngadem di ruang AC atau bisa baca buku dan belajar sambil nunggu waktu buka puasa. Kalo buat petugas kita mungkin agak capai dan tetap pasang muka senyum dan ramah.
Tetapi pengunjung yang ramai itu sampai kapan, mungkin sampai para mahasiswa baru sudah benar-benar merasa jadi mahasiswa. lalu mereka akan datang kalo butuh saja, setelah itu nongkrong bareng teman, tugas dikerjakan perwakilan saja lalu tinggal copy and paste. Sampai saat itulah suasana perpustku kembali ke asalnya, yang lebih nyaman buat petugas daripada buat pengunjung karena yang datang sepi dan pengunjung akan cepat pulang karena sepi.
Sebagai pustakawan dan petugas perpustakaan yang baik, tentu kita senang dengan kondisi demikian, meskipun terkadang agak capai nglayaninya. Kita harus selalu siap melayani dengan keramahan yang 100 % walau terkadang capai juga harus menerangkan ini itu yang baru bagi mahasiswa. Peraturannya begini lho mbak, mas ...., buku yang dipinjam maksimal berapa dan kapan ...., yang ini adanya di rak ini dan lantai ini lho ....
Bagi pengunjung mungkin tidak terlalu terasa bosan dan capai ke perpustakaan. Sekalian bisa ngadem di ruang AC atau bisa baca buku dan belajar sambil nunggu waktu buka puasa. Kalo buat petugas kita mungkin agak capai dan tetap pasang muka senyum dan ramah.
Tetapi pengunjung yang ramai itu sampai kapan, mungkin sampai para mahasiswa baru sudah benar-benar merasa jadi mahasiswa. lalu mereka akan datang kalo butuh saja, setelah itu nongkrong bareng teman, tugas dikerjakan perwakilan saja lalu tinggal copy and paste. Sampai saat itulah suasana perpustku kembali ke asalnya, yang lebih nyaman buat petugas daripada buat pengunjung karena yang datang sepi dan pengunjung akan cepat pulang karena sepi.
Selasa, 25 September 2007
Apa yang anda cari di perpustakaan ?
Dahulu sebelum belajar dan bekerja di perpustakaan, saya kurang begitu mengenal apa itu perpustakaan, taunya cuma ada buku dan majalah di perpustakaan. Perkenalan dengan perpustakaan dimulai waktu SD. Saya sering baca buku-buku cerita wayangnya RA Kosasih, seri Ramayana dan Mahabarta, dari awal sampai mangkatnya para Pandawa, hingga kisah Parikesit dan juga buku-buku komik Punakawan (Petruk Gareng). Sungguh menyenangkan bisa baca buku cerita dengan gratis di perpustakaan yang seadanya. Selain itu saya juga suka baca koran dan komik-komik super hero di tetangga yang lebih kaya.
Perkanalan selanjutnya dengan perpustakaan terjadi waktu sudah mulai SMP. Saya suka baca-baca buku dan majalah di perpustakaan. Kadang-kadang diajak sama kakakku main ke Perpustakaan Daerah Kota Semarang di bekas Gedung GRIS. Pengalaman tentang perpustakaan berjalan terus sampai masa STM. Waktu STM saya lebih sering ke Gramedia daripada ke perpustakaan, karena buku-buku di Gramedia lebih menarik dan tokonya lebih nyaman.
Sampai saat itu saya hanya tau bahwa perpustakaan adalah tempat membaca dan meminjam buku. Ketika tahun 1999 saya diterima jadi PNS dan ditugaskan sebagai teknisi listrik di perpustakaan Undip. Saya disuruh kuliah di jurusan perpustakaan FS Undip hingga jadi sarjana dan terus bekerja dan bergelut dengan perpustakaan dan bahkan punya istri dari perpustakaan. Untuk saya semua sudah saya dapatkan dari perpustakaan. jadi jangan tanya cinta beta dengan perpustakaan.
Lalu pertanyaanya "apa yang anda cari di perpustakaan ?" Mungkin harus menyelami masa kecil dulu (bagi saya) untuk dapat menjawab pertanyaan ini. Bagi saya (mereka) yang suka baca, perpustakaan adalah tempat memuaskan keingintahuan saya tentang segala sesuatu tanpa biaya dan tanpa diawasi penjaga (seperti toko buku).
Jadi mungkin simpel saja ya, buat pemakai mungkin yang dibutuhkan hanya buku yang lengkap dan menarik, suasana yang nyaman dan penjaga yang ramah.
Perkanalan selanjutnya dengan perpustakaan terjadi waktu sudah mulai SMP. Saya suka baca-baca buku dan majalah di perpustakaan. Kadang-kadang diajak sama kakakku main ke Perpustakaan Daerah Kota Semarang di bekas Gedung GRIS. Pengalaman tentang perpustakaan berjalan terus sampai masa STM. Waktu STM saya lebih sering ke Gramedia daripada ke perpustakaan, karena buku-buku di Gramedia lebih menarik dan tokonya lebih nyaman.
Sampai saat itu saya hanya tau bahwa perpustakaan adalah tempat membaca dan meminjam buku. Ketika tahun 1999 saya diterima jadi PNS dan ditugaskan sebagai teknisi listrik di perpustakaan Undip. Saya disuruh kuliah di jurusan perpustakaan FS Undip hingga jadi sarjana dan terus bekerja dan bergelut dengan perpustakaan dan bahkan punya istri dari perpustakaan. Untuk saya semua sudah saya dapatkan dari perpustakaan. jadi jangan tanya cinta beta dengan perpustakaan.
Lalu pertanyaanya "apa yang anda cari di perpustakaan ?" Mungkin harus menyelami masa kecil dulu (bagi saya) untuk dapat menjawab pertanyaan ini. Bagi saya (mereka) yang suka baca, perpustakaan adalah tempat memuaskan keingintahuan saya tentang segala sesuatu tanpa biaya dan tanpa diawasi penjaga (seperti toko buku).
Jadi mungkin simpel saja ya, buat pemakai mungkin yang dibutuhkan hanya buku yang lengkap dan menarik, suasana yang nyaman dan penjaga yang ramah.
Langganan:
Postingan (Atom)
