Beberapa hari ini Undip (PLTIK) disibukkan dengan pelatihan web bagi kepala jurusan, staf dan webmasternya. Semuanya demi satu tujuan, bagaimana menaikkan peringkat undip dalam website-website yang melakukan pemeringkatan misalnya webometrics, QS dll.
Peringkat Undip sendiri dirasakan agak memalukan bagi para siva dan alumninya. Masak kalah sama universitas A atau B yang jelas-jelas kualitas akademiknya di bawah Undip. timbul pertanyaan yang cukup menggelitik dari PR IV, apakah peringkat itu penting bagi Undip ? Apakah kita berkepentingan di situ, toh Undip masih tetap berdiri meskipun peringkatnya di tingkat antah berantah. ...............
full teks di http://sugengpri.blog.undip.ac.id/2009/08/18/perpustakaan-universitas-dan-webometrics/#more-3
Selasa, 09 Maret 2010
Rabu, 22 April 2009
Reposisi Peran Perpustakaan dan Pustakawan di Era Library 2.0
Semenjak penetrasi internet gencar dilakukan di kampus-kampus perguruan tinggi, mahasiswa dan dosen selaku pemakai utama perpustakaan mulai bergeser arah dalam mencari informasi. Dalam memenuhi kebutuhan informasinya mereka lebih banyak memanfaatkan sarana internet. Harga Laptop juga semakin murah, penjualan laptop semakin meningkat sehingga banyak mahasiswa dan dosen yang memiliki laptop. Apabila dahulu hand phone yang mengikuti trend tehnologi menjadi sebuah kebutuhan maka kini laptop mulai menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka. Mereka dapat mencari informasi dan hiburan di internet lewat fasilitas hot spot yang ada.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tingkat kunjungan ke perpustakaan menjadi meningkat, akan tetapi tingkat kunjungan ke ruang koleksi tidak seramai dahulu, sebelum penetrasi internet di tingkatkan. Pengunjung lebih banyak menggunakan fasilitas internet dengan alasan
Dapat mencari informasi dengan referensi yang lebih banyak, lebih cepat
Dapat mencari hiburan yang diinginkan
Dapat menjalin hubungan secara langsung (online) maupun tidak langsung (offline) dengan cara chatting, email dll.
Dapat menjalin social networking dengan teman-teman yang dimiliki.
Semua hal tersebut diatas dapat dilakukan secara langsung dalam satau waktu, satu alat dan satu tempat yaitu di laptop/PC.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tingkat kunjungan ke perpustakaan menjadi meningkat, akan tetapi tingkat kunjungan ke ruang koleksi tidak seramai dahulu, sebelum penetrasi internet di tingkatkan. Pengunjung lebih banyak menggunakan fasilitas internet dengan alasan
Dapat mencari informasi dengan referensi yang lebih banyak, lebih cepat
Dapat mencari hiburan yang diinginkan
Dapat menjalin hubungan secara langsung (online) maupun tidak langsung (offline) dengan cara chatting, email dll.
Dapat menjalin social networking dengan teman-teman yang dimiliki.
Semua hal tersebut diatas dapat dilakukan secara langsung dalam satau waktu, satu alat dan satu tempat yaitu di laptop/PC.
Selasa, 07 April 2009
Teknologi di Perpustakaan
Diskusi tentang teknologi informasi, termasuk teknologi informasi di perpustakaan, khususnya lagi tentang aplikasi komputer, seringkali hanya menyangkut kebendaan teknologi: hardware, software, harga, alat, besar/kecil, kecepatan mesin, dan sebagainya. Saya rasa ada kesalahan besar dalam cara kita memandang teknologi, kalau cuma itu yang kita diskusikan. Juga salah besar kalau kita hanya bicara tentang "skill": ketrampilan, pengetahuan tentang produk terbaru, di mana membelinya, dan sebagainya. Apalagi kalau kita hanya membicarakan harga dan akhirnya berkonsentrasi pada nilai finansial sebuah teknologi
Ada yang kita lupakan, mungkin karena kita anggap tidak penting. Setiap teknologi --termasuk komputer-- mengandung tata nilai, dan di dalam tata nilai ini ada yang dinamakan "trust". Susah menerjemahkan secara tuntas, apa yang dimaksud dengan "trust" ini.
Barangkali contoh kongkrit bisa menjelaskan.
Pernahkah Anda tidak yakin atau tidak percaya bahwa mobil terbaru yang dijual di toko bisa berfungsi dengan baik? Saya yakin, jarang sekali orang yang tidak yakin bahwa mobil baru bisa jalan. Mobil pada umumnya adalah teknologi yang sudah mengandung nilai "trust" tinggi. Orang percaya kepada fungsinya. Tidak hanya itu, orang juga mengenakan banyak nilai kepada teknologi ini, mulai dari gengsi, hidup yang efisien, keamanan, dan sebagainya. Semua nilai ini membentuk "trust" yang kemudian menjadi bagian dari nilai kehidupan masyarakat umum.
Walaupun seseorang tidak punya "skill" sama sekali tentang permobilan, ia tetap bisa menggunakan "trust" ini kalau diminta menilai sebuah mobil baru. Orang yang tidak punya uang pun, tetap bisa menggunakan "trust" ini. Terlebih lagi, "trust" ini juga sudah komplit. Artinya, "trust" itu bukan hanya pada kebendaan. Bukan hanya pada yang tampak ketika kita melihat sebuah mobil. Masyarakat Indonesia sudah punya "trust" kepada mobil sampai kepada aspek-aspek yang tidak tampak. Kita menaruh hormat kepada pembuatnya (teknolognya), walaupun kita tidak tahu pembuatnya. Kita menaruh hormat kepada penjualnya, walaupun penjualnya menipu kita dengan harga kelewat tinggi. Kita bahkan menaruh hormat kepada semua pemilikmobil di Indonesia, walaupun sering juga marah kalau mobil kita diserempet.
Sekarang coba kita alihkan ke komputer di perpustakaan. Pernahkah Anda tidak yakin bahwa komputer bisa berfungsi? Saya yakin, jumlah orang yang menjawab "ya" akan lebih besar daripada yang menjawab "ya" soal mobil. Teknologi komputer di Indonesia adalah teknologi yang belum punya "trust" di masyarakat Indonesia. Ini terlepas dari banyaknya ahli teknologi yang "skill"-nya tinggi. Ini juga terlepas dari seberapa besar daya beli masyarakat. Ini juga terlepas dari seberapa banyak orang yang bisa menggunakan komputer (computer literate). Bandingkan jumlah orang yang "mengerti mobil" dengan jumlah orang yang "mengerti komputer". Mungkin sebanding. Tetapi "trust" ke mobil dan ke komputer berbeda jauh!
Mengapa "trust" kepada komputer rendah di Indonesia -khususnya di bidang perpustakaan?
Salah satu sebab utamanya, menurut saya, karena dominasi industri dan ketimpangan antara janji vendor dan unjuk-kerja sesungguhnya. Industri komputer di Indonesia selalu mengumbar janji muluk, dan para vendor selalu bicara kelewat tinggi. Padahal, ketika komputer dipakai di tempat kerja, hasilnya juga tidak seberapa. Perbankan Indonesia menggunakan komputer sangat canggih. Tetapi kebangkrutan dan "penipuan" kepada konsumen juga sangat tinggi. Jadi, teknologi komputer benar-benar tidak ada gunanya, kalau yang bicara adalah orang yang kehilangan tabungan gara-gara bank-nya brengsek.
Di dunia perpustakaan Indonesia, vendor komputer belum begitu dominan. Yang dominan adalah pribadi-pribadi dengan ketrampilan komputer lebih tinggi dari koleganya. Kalau tidak hati-hati, pribadi-pribadi ini nanti akan bertingkah laku seperti vendor-vendor komputer kampungan di Indonesia. Mereka akan mengumbar janji tentang kehebatan komputer, tetapi kemudian tidak bisa bertanggungjawab jika janjinya tidak terwujud.
Seorang rekan teknolog pernah bertanya kepada saya: mengapa sulit sekali mengembangkan teknologi komputer di perpustakaan, padahal sudah jelas komputer adalah teknologi hebat?
Saya jawab dengan mantap dan penuh percaya-diri: you have not gained their trust. Para teknolog kita belum dapat meyakinkan pustakawan, stakeholder perpustakaan, pemakai jasa perpustakaan, dan masyarakat sekitar perpustakaan, bahwa teknologi komputer berguna untuk kepustakawanan.
Sebuah tulisan dari Pak Putu Laxman Pendit yang perlu kita baca untuk merenungkan kembali mengenai teknologi di perpustakaan
sumber : http://kepustakawanan.blogspot.com/2004/08/teknologi-di-perpustakaan.html
Ada yang kita lupakan, mungkin karena kita anggap tidak penting. Setiap teknologi --termasuk komputer-- mengandung tata nilai, dan di dalam tata nilai ini ada yang dinamakan "trust". Susah menerjemahkan secara tuntas, apa yang dimaksud dengan "trust" ini.
Barangkali contoh kongkrit bisa menjelaskan.
Pernahkah Anda tidak yakin atau tidak percaya bahwa mobil terbaru yang dijual di toko bisa berfungsi dengan baik? Saya yakin, jarang sekali orang yang tidak yakin bahwa mobil baru bisa jalan. Mobil pada umumnya adalah teknologi yang sudah mengandung nilai "trust" tinggi. Orang percaya kepada fungsinya. Tidak hanya itu, orang juga mengenakan banyak nilai kepada teknologi ini, mulai dari gengsi, hidup yang efisien, keamanan, dan sebagainya. Semua nilai ini membentuk "trust" yang kemudian menjadi bagian dari nilai kehidupan masyarakat umum.
Walaupun seseorang tidak punya "skill" sama sekali tentang permobilan, ia tetap bisa menggunakan "trust" ini kalau diminta menilai sebuah mobil baru. Orang yang tidak punya uang pun, tetap bisa menggunakan "trust" ini. Terlebih lagi, "trust" ini juga sudah komplit. Artinya, "trust" itu bukan hanya pada kebendaan. Bukan hanya pada yang tampak ketika kita melihat sebuah mobil. Masyarakat Indonesia sudah punya "trust" kepada mobil sampai kepada aspek-aspek yang tidak tampak. Kita menaruh hormat kepada pembuatnya (teknolognya), walaupun kita tidak tahu pembuatnya. Kita menaruh hormat kepada penjualnya, walaupun penjualnya menipu kita dengan harga kelewat tinggi. Kita bahkan menaruh hormat kepada semua pemilikmobil di Indonesia, walaupun sering juga marah kalau mobil kita diserempet.
Sekarang coba kita alihkan ke komputer di perpustakaan. Pernahkah Anda tidak yakin bahwa komputer bisa berfungsi? Saya yakin, jumlah orang yang menjawab "ya" akan lebih besar daripada yang menjawab "ya" soal mobil. Teknologi komputer di Indonesia adalah teknologi yang belum punya "trust" di masyarakat Indonesia. Ini terlepas dari banyaknya ahli teknologi yang "skill"-nya tinggi. Ini juga terlepas dari seberapa besar daya beli masyarakat. Ini juga terlepas dari seberapa banyak orang yang bisa menggunakan komputer (computer literate). Bandingkan jumlah orang yang "mengerti mobil" dengan jumlah orang yang "mengerti komputer". Mungkin sebanding. Tetapi "trust" ke mobil dan ke komputer berbeda jauh!
Mengapa "trust" kepada komputer rendah di Indonesia -khususnya di bidang perpustakaan?
Salah satu sebab utamanya, menurut saya, karena dominasi industri dan ketimpangan antara janji vendor dan unjuk-kerja sesungguhnya. Industri komputer di Indonesia selalu mengumbar janji muluk, dan para vendor selalu bicara kelewat tinggi. Padahal, ketika komputer dipakai di tempat kerja, hasilnya juga tidak seberapa. Perbankan Indonesia menggunakan komputer sangat canggih. Tetapi kebangkrutan dan "penipuan" kepada konsumen juga sangat tinggi. Jadi, teknologi komputer benar-benar tidak ada gunanya, kalau yang bicara adalah orang yang kehilangan tabungan gara-gara bank-nya brengsek.
Di dunia perpustakaan Indonesia, vendor komputer belum begitu dominan. Yang dominan adalah pribadi-pribadi dengan ketrampilan komputer lebih tinggi dari koleganya. Kalau tidak hati-hati, pribadi-pribadi ini nanti akan bertingkah laku seperti vendor-vendor komputer kampungan di Indonesia. Mereka akan mengumbar janji tentang kehebatan komputer, tetapi kemudian tidak bisa bertanggungjawab jika janjinya tidak terwujud.
Seorang rekan teknolog pernah bertanya kepada saya: mengapa sulit sekali mengembangkan teknologi komputer di perpustakaan, padahal sudah jelas komputer adalah teknologi hebat?
Saya jawab dengan mantap dan penuh percaya-diri: you have not gained their trust. Para teknolog kita belum dapat meyakinkan pustakawan, stakeholder perpustakaan, pemakai jasa perpustakaan, dan masyarakat sekitar perpustakaan, bahwa teknologi komputer berguna untuk kepustakawanan.
Sebuah tulisan dari Pak Putu Laxman Pendit yang perlu kita baca untuk merenungkan kembali mengenai teknologi di perpustakaan
sumber : http://kepustakawanan.blogspot.com/2004/08/teknologi-di-perpustakaan.html
Pengalamanku bikin web perpus dengan joomla
Sudah hampir lama saya vakum, tidak menengok sama sekali blogku ini karena kesibukan dan juga kelupaan.
Hampir setahun ini saya belajar terus mengenai semua yang ada di internet, mencoba membuat karya di dunia maya. Akhirnya, meskipun masih jauh dari sempurna jadilah web kantorku
Setahun aku terpesona dengan joomla, terpesona dengan kemudahan dan keindahan tampilannya. Untuk seorang web designer pemula seperti saya joomla terasa mudah dan menyenangkan. Saya juga pernah mencoba belajar Drupal. Bagi saya terasa lebih susah, meskipun lebih aman.
Mulanya saya langsung pakai joomla 1.5, coba banyak template dan ekstensi dari joomla. Setelah dirasa cukup dan mau hosting ke server inherent undip, ternyata ada masalah. Saya gak bisa nambah content, tampilan admin untuk nambah konten ternyata tidak tampil sempurna. Kemudian disarankan untuk ganti dengan joomla 1.0.
Selasa, 27 Mei 2008
Penggunaan FOSS untuk TI Perpustakaan

Sudah lama gak memposting di blog saya ini, kangen juga rasanya. Mungkin gara-gara sibuk kerja jadi lupa atau karena kebiasaan laki-laki ya, karena ada yang baru/istri muda maka biasanya lupa dengan istri tua.
Ini bukan mengenai masalah Poligami lho, tapi mengenai perkembangan skill TI. Baru-baru ini saya sedang belajar mengenai CMS, mulai dari Aura, Joomla sampai Drupal. Semuanya saya coba install di komputer, dilihat mana yang bagus, lihat sisi baik dan buruknya, keunggulan dan kelemahannya.
Mengenai masalah FOSS (Free Open Source Software) yang dapat digunakan untuk TI perpustakaan, saya pelajari juga. Lirik sana-lirik sini, dapat info ini coba dipelajari dan diaplikasikan, seperti WWWISIS, Senayan, Openbiblio dll.
Semua sudah saya install, dilihat fitur-fitur dan tampilannya. Semuanya bagus dan punya keunggulan masing-masing.
Dari semua yang ada saya tidak bisa merekomendasikan bagi mereka yang ingin mengaplikasikannya karena saya hanya melihat tampilan dan fiturnya saja. Dari situ dapat saya pahami bahwa untuk mengaplikasikan TI di Perpustakaan tidak di perlukan dana yang besar, karena pada dasarnya semua memenuhi kebutuhan dasar perpustakaan.
Senin, 03 Desember 2007
Menumbuhkan Semangat Open Source di Kalangan Perpustakaan
Minggu kemarin saya disuruh wakilin bos buat hadir dalam workshop di Yogya. Disana disepakati akan dibentuk suatu Jaringan Perpustakaan Digital Perguruan Tinggi Indonesia (JAPERDIPTI). Dimana yang hadir sepakat untuk bekerja sama membangun suatu portal yang berisikan data-data koleksi muatan lokal (local content) dari setiap PT yang menjadi anggota. Dikarenakan selama ini belum adanya suatu data base koleksi muatan lokal dari PT di Indonesia. Portal ini nantinya akan nunut di jaringan INHERENT Dikti. Karena fisik jaringan komputer sudah ada dan sudah siap maka tinggal dibuat suatu kesepakatan kerja sama dan teknisnya.
Meskipun belum melibatkan seluruh PT di Indonesia akan tetapi ini suatu kemajuan dalam kerja sama antar perpustakaan PT di Indonesia.
Semangat Open Source
Semangat Open Source yang saya maksudkan disini adalah dalam hal berbagi informasi dan kerja sama. Dunia perpustakaan harus mencontoh dunia Open Source, dimana mereka selalu berusaha berbagi informasi dan kemajuan tanpa memikirkan hak cipta. Lihat saja perkembangan Linux, Ubuntu yang selalu mengeluarkan rilis baru setiap bulan 4 dan 10. Hal ini yang belum begitu terasa di dunia perpustakaan kita.
Perpustakaan-perpustakaan besar selalu menanyakan kontribusi dari perpustakaan kecil. Yang besar merasa berat hati menggendong yang kecil. 'Jangan suka minta terus dong', begitu yang selalu mereka dengungkan.
Perpustakaan kecil selalu merasa pesimis dan rendah diri, bagaimana kami bisa menyediakan layanan perpustakaan digital. Lha wong otomasi saja belum, hosting saja masih dalam rencana. Anggaran kami sangat kecil sekali. Untuk melanggan internet dengan bps yang besar, mana kuat kami ?
Lalu bagaimana solusinya ?Perpustakaan kecil selalu merasa pesimis dan rendah diri, bagaimana kami bisa menyediakan layanan perpustakaan digital. Lha wong otomasi saja belum, hosting saja masih dalam rencana. Anggaran kami sangat kecil sekali. Untuk melanggan internet dengan bps yang besar, mana kuat kami ?
Disinilah kita kembali harus menengok ke dunia Open Source. Setiap bulan 4 dan 10 tersedia rilis terbaru dari Ubuntu yang dapat diunduh dengan gratis beserta update dan repositorynya, bagi yang tidak mampu menngunduh dapat memesan CD atau DVD nya dengan harga yang murah (5/10 ribu ). Selain itu setiap ada problem dapat dicari solusinya melalui forum-forum yang ada.
Lalu bagaimana dengan JAPERDIPTI ?
Menurut saya ini adalah suatu usaha yang bagus yang harus didukung semua perpustakaan PT tanpa mempertimbangkan kepentingan kita. Perpustakaan besar akan terlihat ke'besar'annya dengan berkumpul yang kecil dan perpustakaan kecil akan memperoleh manfaat yang sangat besar dengan memberikan sumbangan yang relatif kecil.
Lalu mengenai hal teknisnya.
Portal yang akan dibangun nanti perlu juga membuat suatu software yang dapat dijalankan secara offline. Jadi bagi perpustakaan kecil tidak harus memiliki suatu sambungan internet yang terkoneksi terus menerus. mereka tinggal mengunduh update database yang terbaru setiap 6 bulan sekali atau dikirimi CD/DVD update. Database terbaru tsb kemudian diupdate ke dalam pangkalan data offline yang ada.
Lalu mengenai hal teknisnya.
Portal yang akan dibangun nanti perlu juga membuat suatu software yang dapat dijalankan secara offline. Jadi bagi perpustakaan kecil tidak harus memiliki suatu sambungan internet yang terkoneksi terus menerus. mereka tinggal mengunduh update database yang terbaru setiap 6 bulan sekali atau dikirimi CD/DVD update. Database terbaru tsb kemudian diupdate ke dalam pangkalan data offline yang ada.
Untuk mengupload data mereka maka perlu ditunjuk suatu koordinator rayon yang bertugas mengupload ke server di Inherent atau bisa juga menupload sendiri lewat koneksi internet. Konsekuensinya adalah akan ada biaya internet.
Sekali lagi kesepakatan ini adalah suatu kemajuan maka jangan dipersulit dengan peraturan-peraturan yang terlalu birokratis, kembangkan semangat berbagi, buatlah segalanya menjadi sederhana dan mudah.
Sekali lagi kesepakatan ini adalah suatu kemajuan maka jangan dipersulit dengan peraturan-peraturan yang terlalu birokratis, kembangkan semangat berbagi, buatlah segalanya menjadi sederhana dan mudah.
Label:
JAPERDIPTI,
Open Source,
OPerpustakaan Digital
Rabu, 03 Oktober 2007
Puasa di Perpustakaan
Bulan puasa kali ini, perpustakaan semakin ramai padahal pegawainya banyak yang puasa. Mahasiswa berduyun-duyun datang ke perpustakaan, apalagi mahasiswa baru yang sedang merasakan euforia menjadi mahasiswa. Rajin datang ke perpust, baca buku, nyari definisi tentang ini itu, mbikin tugas dari dosen secara mandiri. Perpustakaan jadi ramai banget bahkan terkadang kurang nyaman dan tenang. Banyak buku yang berserakan di meja, loker juga selalu penuh bahkan sampai nggak muat.
Sebagai pustakawan dan petugas perpustakaan yang baik, tentu kita senang dengan kondisi demikian, meskipun terkadang agak capai nglayaninya. Kita harus selalu siap melayani dengan keramahan yang 100 % walau terkadang capai juga harus menerangkan ini itu yang baru bagi mahasiswa. Peraturannya begini lho mbak, mas ...., buku yang dipinjam maksimal berapa dan kapan ...., yang ini adanya di rak ini dan lantai ini lho ....
Bagi pengunjung mungkin tidak terlalu terasa bosan dan capai ke perpustakaan. Sekalian bisa ngadem di ruang AC atau bisa baca buku dan belajar sambil nunggu waktu buka puasa. Kalo buat petugas kita mungkin agak capai dan tetap pasang muka senyum dan ramah.
Tetapi pengunjung yang ramai itu sampai kapan, mungkin sampai para mahasiswa baru sudah benar-benar merasa jadi mahasiswa. lalu mereka akan datang kalo butuh saja, setelah itu nongkrong bareng teman, tugas dikerjakan perwakilan saja lalu tinggal copy and paste. Sampai saat itulah suasana perpustku kembali ke asalnya, yang lebih nyaman buat petugas daripada buat pengunjung karena yang datang sepi dan pengunjung akan cepat pulang karena sepi.
Sebagai pustakawan dan petugas perpustakaan yang baik, tentu kita senang dengan kondisi demikian, meskipun terkadang agak capai nglayaninya. Kita harus selalu siap melayani dengan keramahan yang 100 % walau terkadang capai juga harus menerangkan ini itu yang baru bagi mahasiswa. Peraturannya begini lho mbak, mas ...., buku yang dipinjam maksimal berapa dan kapan ...., yang ini adanya di rak ini dan lantai ini lho ....
Bagi pengunjung mungkin tidak terlalu terasa bosan dan capai ke perpustakaan. Sekalian bisa ngadem di ruang AC atau bisa baca buku dan belajar sambil nunggu waktu buka puasa. Kalo buat petugas kita mungkin agak capai dan tetap pasang muka senyum dan ramah.
Tetapi pengunjung yang ramai itu sampai kapan, mungkin sampai para mahasiswa baru sudah benar-benar merasa jadi mahasiswa. lalu mereka akan datang kalo butuh saja, setelah itu nongkrong bareng teman, tugas dikerjakan perwakilan saja lalu tinggal copy and paste. Sampai saat itulah suasana perpustku kembali ke asalnya, yang lebih nyaman buat petugas daripada buat pengunjung karena yang datang sepi dan pengunjung akan cepat pulang karena sepi.
Langganan:
Postingan (Atom)
