Oleh : Sugeng Priyanto, SS
Didalam dunia perguruan tinggi terdapat suatu idiom yang mungkin terkesan kuno yaitu bahwa “Library is the heart of the university” . Jadi Perpustakaan merupakan “jantungnya” universitas/perguruan tinggi. Namun kalau disebut jantung, tentu Perpustakaan memiliki peran vital/penting dalam kehidupamn perguruan tinggi. Bahkan tanpanya, mungkin akan mati. Tetapi apa yang terjadi di Indonesia perguruan tinggi dapat bertahan tanpa Perpustakaan sekalipun. Sehingga sebuah perguruan tinggi tanpa Perpustakaan yang sehat atau bahkan tidak memiliki perpustakaan, tentu dapat dikatakan sebagai sebuah robot.
Sebuah Perpustakaan yang sehat tentu harus dapat memompakan zat-zat berupa informasi dan ilmu pengetahuan ke seluruh tubuhnya (sivitas akademika) agar dapat bermanfaat bagi pertumbuhan dan aktifitas pendidikan di perguruan tinggi dalam rangka melaksanakan program Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Untuk itu Perpustakaan perlu mengadakan, menghimpun, mengolah, menyimpan dan melayankan koleksinya yang berisi informasi yang dibutuhkan oleh Penggunanya.
Mengingat arti penting perpustakaan bagi Penggunanya maka perlu diadakan suatu kegiatan yang memperlihatkan dan menjelaskan manfaat penting Perpustakaan bagi seluruh sivitas akademikanya. Hal yang sering terjadi adalah bahwa kemampuan pengguna dalam memanfaatkan Perpustakaan merupakan dasar yang amat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Selain itu Perpustakaan diharapkan mampu untuk mendidik penggunanya untuk tertib dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan semua koleksinya secara maksimal. Dengan demikian Perpustakaan akan berfungsi secara optimal apabila penggunanya dapat mengetahui dengan baik dan cepat dimana dan bagaimana cara menemukan sumber informasi yang mereka butuhkan.
full teks silahkan lihat di sini
Selasa, 09 Maret 2010
Jadi Tutor UT
Beberapa bulan yang lalu saya nglamar menjadi Tutor Perpustakaan di UT buat nyari pengalaman. Dan ternyata diterima, tanggal 26 – 27 Agustus 2009 diundang untuk mengikuti pembekalan. Akhirnya jadi tau kalau jadi tutor itu susah juga, harus bikin RAT, SAT, RE dll sebelum melaksanakan tutorial. Rekan-rekan yang jadi dosenpun banyak juga yang ngikut dan merasakan lebih berat jadi tutor UT.
Dan sayapun dapat tugas mata kuliah Media Teknologi (PUST 2243), nutor mahasiswa D2 Perpustakaan di 4 Pokjar (Wuryantoro A, B, Pracimantoro dan Selogiri A). Hari Sabtu 29 Agustus 2009 jam 11.30 WIB saya berangkat dari rumah di Solo Baru ke Wuryantoro naik motor. Perjalanan cukup jauh (1 jam) dengan jalan yang bergelombang, melewati Waduk Gajah Mungkur. Akhirnya jam 12.30 sampai juga di SDN 1 Wuryantoro.
Ternyata menjadi tutor asyik juga, meski sedikit grogi dan bingung mau ngomong apa di depan kelas. Awak jadi keliatan kaya orang pinter yang omongane selalu didenger, he he he. Mahasiswa mendengarkan dengan penuh perhatian setiap penjelasan saya, meskipun ada juga suara celometan di kursi belakang. Biasalah, saya dulu juga begitu. Pas kuliah, kalau lagi nggak mood, duduknya di belakang, ngomong sendiri sama temen.
links
Dan sayapun dapat tugas mata kuliah Media Teknologi (PUST 2243), nutor mahasiswa D2 Perpustakaan di 4 Pokjar (Wuryantoro A, B, Pracimantoro dan Selogiri A). Hari Sabtu 29 Agustus 2009 jam 11.30 WIB saya berangkat dari rumah di Solo Baru ke Wuryantoro naik motor. Perjalanan cukup jauh (1 jam) dengan jalan yang bergelombang, melewati Waduk Gajah Mungkur. Akhirnya jam 12.30 sampai juga di SDN 1 Wuryantoro.
Ternyata menjadi tutor asyik juga, meski sedikit grogi dan bingung mau ngomong apa di depan kelas. Awak jadi keliatan kaya orang pinter yang omongane selalu didenger, he he he. Mahasiswa mendengarkan dengan penuh perhatian setiap penjelasan saya, meskipun ada juga suara celometan di kursi belakang. Biasalah, saya dulu juga begitu. Pas kuliah, kalau lagi nggak mood, duduknya di belakang, ngomong sendiri sama temen.
links
Perpustakaan, Universitas dan Webometrics
Beberapa hari ini Undip (PLTIK) disibukkan dengan pelatihan web bagi kepala jurusan, staf dan webmasternya. Semuanya demi satu tujuan, bagaimana menaikkan peringkat undip dalam website-website yang melakukan pemeringkatan misalnya webometrics, QS dll.
Peringkat Undip sendiri dirasakan agak memalukan bagi para siva dan alumninya. Masak kalah sama universitas A atau B yang jelas-jelas kualitas akademiknya di bawah Undip. timbul pertanyaan yang cukup menggelitik dari PR IV, apakah peringkat itu penting bagi Undip ? Apakah kita berkepentingan di situ, toh Undip masih tetap berdiri meskipun peringkatnya di tingkat antah berantah. ...............
full teks di http://sugengpri.blog.undip.ac.id/2009/08/18/perpustakaan-universitas-dan-webometrics/#more-3
Peringkat Undip sendiri dirasakan agak memalukan bagi para siva dan alumninya. Masak kalah sama universitas A atau B yang jelas-jelas kualitas akademiknya di bawah Undip. timbul pertanyaan yang cukup menggelitik dari PR IV, apakah peringkat itu penting bagi Undip ? Apakah kita berkepentingan di situ, toh Undip masih tetap berdiri meskipun peringkatnya di tingkat antah berantah. ...............
full teks di http://sugengpri.blog.undip.ac.id/2009/08/18/perpustakaan-universitas-dan-webometrics/#more-3
Rabu, 22 April 2009
Reposisi Peran Perpustakaan dan Pustakawan di Era Library 2.0
Semenjak penetrasi internet gencar dilakukan di kampus-kampus perguruan tinggi, mahasiswa dan dosen selaku pemakai utama perpustakaan mulai bergeser arah dalam mencari informasi. Dalam memenuhi kebutuhan informasinya mereka lebih banyak memanfaatkan sarana internet. Harga Laptop juga semakin murah, penjualan laptop semakin meningkat sehingga banyak mahasiswa dan dosen yang memiliki laptop. Apabila dahulu hand phone yang mengikuti trend tehnologi menjadi sebuah kebutuhan maka kini laptop mulai menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka. Mereka dapat mencari informasi dan hiburan di internet lewat fasilitas hot spot yang ada.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tingkat kunjungan ke perpustakaan menjadi meningkat, akan tetapi tingkat kunjungan ke ruang koleksi tidak seramai dahulu, sebelum penetrasi internet di tingkatkan. Pengunjung lebih banyak menggunakan fasilitas internet dengan alasan
Dapat mencari informasi dengan referensi yang lebih banyak, lebih cepat
Dapat mencari hiburan yang diinginkan
Dapat menjalin hubungan secara langsung (online) maupun tidak langsung (offline) dengan cara chatting, email dll.
Dapat menjalin social networking dengan teman-teman yang dimiliki.
Semua hal tersebut diatas dapat dilakukan secara langsung dalam satau waktu, satu alat dan satu tempat yaitu di laptop/PC.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tingkat kunjungan ke perpustakaan menjadi meningkat, akan tetapi tingkat kunjungan ke ruang koleksi tidak seramai dahulu, sebelum penetrasi internet di tingkatkan. Pengunjung lebih banyak menggunakan fasilitas internet dengan alasan
Dapat mencari informasi dengan referensi yang lebih banyak, lebih cepat
Dapat mencari hiburan yang diinginkan
Dapat menjalin hubungan secara langsung (online) maupun tidak langsung (offline) dengan cara chatting, email dll.
Dapat menjalin social networking dengan teman-teman yang dimiliki.
Semua hal tersebut diatas dapat dilakukan secara langsung dalam satau waktu, satu alat dan satu tempat yaitu di laptop/PC.
Selasa, 07 April 2009
Teknologi di Perpustakaan
Diskusi tentang teknologi informasi, termasuk teknologi informasi di perpustakaan, khususnya lagi tentang aplikasi komputer, seringkali hanya menyangkut kebendaan teknologi: hardware, software, harga, alat, besar/kecil, kecepatan mesin, dan sebagainya. Saya rasa ada kesalahan besar dalam cara kita memandang teknologi, kalau cuma itu yang kita diskusikan. Juga salah besar kalau kita hanya bicara tentang "skill": ketrampilan, pengetahuan tentang produk terbaru, di mana membelinya, dan sebagainya. Apalagi kalau kita hanya membicarakan harga dan akhirnya berkonsentrasi pada nilai finansial sebuah teknologi
Ada yang kita lupakan, mungkin karena kita anggap tidak penting. Setiap teknologi --termasuk komputer-- mengandung tata nilai, dan di dalam tata nilai ini ada yang dinamakan "trust". Susah menerjemahkan secara tuntas, apa yang dimaksud dengan "trust" ini.
Barangkali contoh kongkrit bisa menjelaskan.
Pernahkah Anda tidak yakin atau tidak percaya bahwa mobil terbaru yang dijual di toko bisa berfungsi dengan baik? Saya yakin, jarang sekali orang yang tidak yakin bahwa mobil baru bisa jalan. Mobil pada umumnya adalah teknologi yang sudah mengandung nilai "trust" tinggi. Orang percaya kepada fungsinya. Tidak hanya itu, orang juga mengenakan banyak nilai kepada teknologi ini, mulai dari gengsi, hidup yang efisien, keamanan, dan sebagainya. Semua nilai ini membentuk "trust" yang kemudian menjadi bagian dari nilai kehidupan masyarakat umum.
Walaupun seseorang tidak punya "skill" sama sekali tentang permobilan, ia tetap bisa menggunakan "trust" ini kalau diminta menilai sebuah mobil baru. Orang yang tidak punya uang pun, tetap bisa menggunakan "trust" ini. Terlebih lagi, "trust" ini juga sudah komplit. Artinya, "trust" itu bukan hanya pada kebendaan. Bukan hanya pada yang tampak ketika kita melihat sebuah mobil. Masyarakat Indonesia sudah punya "trust" kepada mobil sampai kepada aspek-aspek yang tidak tampak. Kita menaruh hormat kepada pembuatnya (teknolognya), walaupun kita tidak tahu pembuatnya. Kita menaruh hormat kepada penjualnya, walaupun penjualnya menipu kita dengan harga kelewat tinggi. Kita bahkan menaruh hormat kepada semua pemilikmobil di Indonesia, walaupun sering juga marah kalau mobil kita diserempet.
Sekarang coba kita alihkan ke komputer di perpustakaan. Pernahkah Anda tidak yakin bahwa komputer bisa berfungsi? Saya yakin, jumlah orang yang menjawab "ya" akan lebih besar daripada yang menjawab "ya" soal mobil. Teknologi komputer di Indonesia adalah teknologi yang belum punya "trust" di masyarakat Indonesia. Ini terlepas dari banyaknya ahli teknologi yang "skill"-nya tinggi. Ini juga terlepas dari seberapa besar daya beli masyarakat. Ini juga terlepas dari seberapa banyak orang yang bisa menggunakan komputer (computer literate). Bandingkan jumlah orang yang "mengerti mobil" dengan jumlah orang yang "mengerti komputer". Mungkin sebanding. Tetapi "trust" ke mobil dan ke komputer berbeda jauh!
Mengapa "trust" kepada komputer rendah di Indonesia -khususnya di bidang perpustakaan?
Salah satu sebab utamanya, menurut saya, karena dominasi industri dan ketimpangan antara janji vendor dan unjuk-kerja sesungguhnya. Industri komputer di Indonesia selalu mengumbar janji muluk, dan para vendor selalu bicara kelewat tinggi. Padahal, ketika komputer dipakai di tempat kerja, hasilnya juga tidak seberapa. Perbankan Indonesia menggunakan komputer sangat canggih. Tetapi kebangkrutan dan "penipuan" kepada konsumen juga sangat tinggi. Jadi, teknologi komputer benar-benar tidak ada gunanya, kalau yang bicara adalah orang yang kehilangan tabungan gara-gara bank-nya brengsek.
Di dunia perpustakaan Indonesia, vendor komputer belum begitu dominan. Yang dominan adalah pribadi-pribadi dengan ketrampilan komputer lebih tinggi dari koleganya. Kalau tidak hati-hati, pribadi-pribadi ini nanti akan bertingkah laku seperti vendor-vendor komputer kampungan di Indonesia. Mereka akan mengumbar janji tentang kehebatan komputer, tetapi kemudian tidak bisa bertanggungjawab jika janjinya tidak terwujud.
Seorang rekan teknolog pernah bertanya kepada saya: mengapa sulit sekali mengembangkan teknologi komputer di perpustakaan, padahal sudah jelas komputer adalah teknologi hebat?
Saya jawab dengan mantap dan penuh percaya-diri: you have not gained their trust. Para teknolog kita belum dapat meyakinkan pustakawan, stakeholder perpustakaan, pemakai jasa perpustakaan, dan masyarakat sekitar perpustakaan, bahwa teknologi komputer berguna untuk kepustakawanan.
Sebuah tulisan dari Pak Putu Laxman Pendit yang perlu kita baca untuk merenungkan kembali mengenai teknologi di perpustakaan
sumber : http://kepustakawanan.blogspot.com/2004/08/teknologi-di-perpustakaan.html
Ada yang kita lupakan, mungkin karena kita anggap tidak penting. Setiap teknologi --termasuk komputer-- mengandung tata nilai, dan di dalam tata nilai ini ada yang dinamakan "trust". Susah menerjemahkan secara tuntas, apa yang dimaksud dengan "trust" ini.
Barangkali contoh kongkrit bisa menjelaskan.
Pernahkah Anda tidak yakin atau tidak percaya bahwa mobil terbaru yang dijual di toko bisa berfungsi dengan baik? Saya yakin, jarang sekali orang yang tidak yakin bahwa mobil baru bisa jalan. Mobil pada umumnya adalah teknologi yang sudah mengandung nilai "trust" tinggi. Orang percaya kepada fungsinya. Tidak hanya itu, orang juga mengenakan banyak nilai kepada teknologi ini, mulai dari gengsi, hidup yang efisien, keamanan, dan sebagainya. Semua nilai ini membentuk "trust" yang kemudian menjadi bagian dari nilai kehidupan masyarakat umum.
Walaupun seseorang tidak punya "skill" sama sekali tentang permobilan, ia tetap bisa menggunakan "trust" ini kalau diminta menilai sebuah mobil baru. Orang yang tidak punya uang pun, tetap bisa menggunakan "trust" ini. Terlebih lagi, "trust" ini juga sudah komplit. Artinya, "trust" itu bukan hanya pada kebendaan. Bukan hanya pada yang tampak ketika kita melihat sebuah mobil. Masyarakat Indonesia sudah punya "trust" kepada mobil sampai kepada aspek-aspek yang tidak tampak. Kita menaruh hormat kepada pembuatnya (teknolognya), walaupun kita tidak tahu pembuatnya. Kita menaruh hormat kepada penjualnya, walaupun penjualnya menipu kita dengan harga kelewat tinggi. Kita bahkan menaruh hormat kepada semua pemilikmobil di Indonesia, walaupun sering juga marah kalau mobil kita diserempet.
Sekarang coba kita alihkan ke komputer di perpustakaan. Pernahkah Anda tidak yakin bahwa komputer bisa berfungsi? Saya yakin, jumlah orang yang menjawab "ya" akan lebih besar daripada yang menjawab "ya" soal mobil. Teknologi komputer di Indonesia adalah teknologi yang belum punya "trust" di masyarakat Indonesia. Ini terlepas dari banyaknya ahli teknologi yang "skill"-nya tinggi. Ini juga terlepas dari seberapa besar daya beli masyarakat. Ini juga terlepas dari seberapa banyak orang yang bisa menggunakan komputer (computer literate). Bandingkan jumlah orang yang "mengerti mobil" dengan jumlah orang yang "mengerti komputer". Mungkin sebanding. Tetapi "trust" ke mobil dan ke komputer berbeda jauh!
Mengapa "trust" kepada komputer rendah di Indonesia -khususnya di bidang perpustakaan?
Salah satu sebab utamanya, menurut saya, karena dominasi industri dan ketimpangan antara janji vendor dan unjuk-kerja sesungguhnya. Industri komputer di Indonesia selalu mengumbar janji muluk, dan para vendor selalu bicara kelewat tinggi. Padahal, ketika komputer dipakai di tempat kerja, hasilnya juga tidak seberapa. Perbankan Indonesia menggunakan komputer sangat canggih. Tetapi kebangkrutan dan "penipuan" kepada konsumen juga sangat tinggi. Jadi, teknologi komputer benar-benar tidak ada gunanya, kalau yang bicara adalah orang yang kehilangan tabungan gara-gara bank-nya brengsek.
Di dunia perpustakaan Indonesia, vendor komputer belum begitu dominan. Yang dominan adalah pribadi-pribadi dengan ketrampilan komputer lebih tinggi dari koleganya. Kalau tidak hati-hati, pribadi-pribadi ini nanti akan bertingkah laku seperti vendor-vendor komputer kampungan di Indonesia. Mereka akan mengumbar janji tentang kehebatan komputer, tetapi kemudian tidak bisa bertanggungjawab jika janjinya tidak terwujud.
Seorang rekan teknolog pernah bertanya kepada saya: mengapa sulit sekali mengembangkan teknologi komputer di perpustakaan, padahal sudah jelas komputer adalah teknologi hebat?
Saya jawab dengan mantap dan penuh percaya-diri: you have not gained their trust. Para teknolog kita belum dapat meyakinkan pustakawan, stakeholder perpustakaan, pemakai jasa perpustakaan, dan masyarakat sekitar perpustakaan, bahwa teknologi komputer berguna untuk kepustakawanan.
Sebuah tulisan dari Pak Putu Laxman Pendit yang perlu kita baca untuk merenungkan kembali mengenai teknologi di perpustakaan
sumber : http://kepustakawanan.blogspot.com/2004/08/teknologi-di-perpustakaan.html
Pengalamanku bikin web perpus dengan joomla
Sudah hampir lama saya vakum, tidak menengok sama sekali blogku ini karena kesibukan dan juga kelupaan.
Hampir setahun ini saya belajar terus mengenai semua yang ada di internet, mencoba membuat karya di dunia maya. Akhirnya, meskipun masih jauh dari sempurna jadilah web kantorku
Setahun aku terpesona dengan joomla, terpesona dengan kemudahan dan keindahan tampilannya. Untuk seorang web designer pemula seperti saya joomla terasa mudah dan menyenangkan. Saya juga pernah mencoba belajar Drupal. Bagi saya terasa lebih susah, meskipun lebih aman.
Mulanya saya langsung pakai joomla 1.5, coba banyak template dan ekstensi dari joomla. Setelah dirasa cukup dan mau hosting ke server inherent undip, ternyata ada masalah. Saya gak bisa nambah content, tampilan admin untuk nambah konten ternyata tidak tampil sempurna. Kemudian disarankan untuk ganti dengan joomla 1.0.
Selasa, 27 Mei 2008
Penggunaan FOSS untuk TI Perpustakaan

Sudah lama gak memposting di blog saya ini, kangen juga rasanya. Mungkin gara-gara sibuk kerja jadi lupa atau karena kebiasaan laki-laki ya, karena ada yang baru/istri muda maka biasanya lupa dengan istri tua.
Ini bukan mengenai masalah Poligami lho, tapi mengenai perkembangan skill TI. Baru-baru ini saya sedang belajar mengenai CMS, mulai dari Aura, Joomla sampai Drupal. Semuanya saya coba install di komputer, dilihat mana yang bagus, lihat sisi baik dan buruknya, keunggulan dan kelemahannya.
Mengenai masalah FOSS (Free Open Source Software) yang dapat digunakan untuk TI perpustakaan, saya pelajari juga. Lirik sana-lirik sini, dapat info ini coba dipelajari dan diaplikasikan, seperti WWWISIS, Senayan, Openbiblio dll.
Semua sudah saya install, dilihat fitur-fitur dan tampilannya. Semuanya bagus dan punya keunggulan masing-masing.
Dari semua yang ada saya tidak bisa merekomendasikan bagi mereka yang ingin mengaplikasikannya karena saya hanya melihat tampilan dan fiturnya saja. Dari situ dapat saya pahami bahwa untuk mengaplikasikan TI di Perpustakaan tidak di perlukan dana yang besar, karena pada dasarnya semua memenuhi kebutuhan dasar perpustakaan.
Langganan:
Postingan (Atom)
